STAIRWAY TO HEAVEN FF oneshoot

Published November 23, 2012 by fanfiction2012

STAIRWAY TO HEAVEN FF oneshoot

Cast     : SNSD’s Taeyeon

Super Junior’s Leeteuk (Park JungSoo)

SNSD’s Sooyoung

Genre   : Sad Romantic

Author : Kim L

Note     : ide FF ini dateng pas aku baru banget bangun tidur. Dan tadinya mau dibikin kyuyoung couple, tapi kayanya lebih pas kalo cast nya teuktaeng. Cerita yang agak mengharukan. Dedicated for those all ELFs, SONEs, and SUGEN PAIRING . dont exit before you finish read and dont bash after you read. KEEP CALM AND KEEP SUPPORT OTHER FANDOM. Thankies gomawo ^^

~~~

Kicauan burung kini bergema disetiap sudut kota seoul, menandakan bahwa  musim semi sudah datang dan matahari kini sudah bangkit dari persembunyiannya.

‘Pagi yang cerah untuk suasana hati yang cerah’ mungkin phrase itu adalah yang peling tepat untuk mewakili betapa hangatnya pancaranan sinar matahri yang tuhan berikan dipagi hari ini.

namun tidak untuk pemandangan seorang wanita memakai setelan dress selutut berwarna putih, yang kini tengah duduk di salah satu bangku taman dekat pusat kota yang dikenal dengan keindahan air mancurnya. Ia duduk dengan menatap lurus kearah air mancur yang tak henti hentinya menyemprotkan air, berharap orang yang sedang ada dibenaknya saat ini bisa hidup seperti air mancur itu.

Dengan tatapan kosong dan lingkaran mata yg mulai menghitam, dirogohnya tas kecil yang sedari tadi dipangkunya dan mendapatkan sebuah foto yang menampakan dirinya dan seorang lelaki tengah saling merangkul dan membuat pose lucu. Siapapun tau foto itu adalah foto pasangan.

Ditatapnya dengan dalam setiap lekuk wajah yg ada dalam foto tersebut. Dan tak lama Diusapkannya jemari mungil miliknya dibagian wajah namja yang berfoto disebelahnya itu. Wajah putih pasinya kini menyiratkan sebuah rasa rindu yang sangat amat dalam terhadap namja itu. bahkan untuk bernapas saja rasanya sakit karna rasa rindu yang ia rasakan semakin hari terasa semakin menusuk baginya.

“Taeyeon!!!” mendengar namanya terpanggil, yeoja berpenampilan kusut ini pun membalikan tubuhnya dan mendapatkan seorang wanita paruh baya tengah menatapnya nanar tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini.

“ternyata kau disini, eomma mencari mu sayang!” dipeluknya dengan erat tubuh taeyeon. Sementara yeoja yang dipeluknya itu tidak membalas sama sekali. ia hanya diam masih dengan tatapan kosongnya seolah tidak merasakan bahwa ada sebuah kehangatan yang sedang memeluknya saat ini

Yapp Semenjak hari itu, hari dimana putri sulungnya ini telah kehilangan separuh dari kehidupan dan kebahagiannya. Kim Taeyeon berubah menjadi pribadi yg pendiam, bahkan bisa terhitung dengan jari berapa banyak ia berbicara dalam sehari. Dengan kata lain yeoja cantik itu kini hidup seperti tanpa raga dalam tubuhnya. Semakin hari tubuhnya semakin kurus dan tidak ter urus. Tulang pipinya pun mulai terlihat tirus ditambah lagi lingkaran mata yang membuatnya semakin terlihat seperti anak panda yang kekurangan gizi. Baginya kini setiap hari adalah neraka, karna menurutnya bumi tidak akan bisa berputar tanpa matahari dan bulan. Separuh dari kehidupannya telah pergi, bukan pergi untuk sementara namun pergi untuk selamanya.

“eomma senang kau sudah mau keluar nak” lanjut wanita paruh baya itu seraya melepaskan pelukan hangatnya dan menyapukan tangan kirinya dirambut coklat milik taeyeon

“hari ini tepat sebulan kepergian Teukie oppa” jawab Taeyeon dingin, sementara eommanya hanya diam dan berusaha keras untuk tidak mengeluarkan air matanya. Jauh dilubuk hatinya ia senang akhirnya Taeyeon bisa berpergian keluar lagi mengingat sebulan belakangan ini ia hanya mengunci diri dikamar namun bukan jawaban itu yang diharapkan keluar dari bibir Taeyeon. Ia tak menyangka akan sesulit ini putri sulungnya itu menjalani hidupnya setelah Leeteuk namja yang seharusnya menjadi calon menantunya harus pergi untuk selama-lamanya.

“benarkah? Leeteuk pasti sudah bahagia sekarang” ucap eomma taeyeon seraya merapikan setiap anak rambut yang menutup wajah cantik putrinya itu.

“karna Leeteuk sudah bahagia disurga, kau juga hiduplah dengan bahagia. Ia akan sedih jika melihat  keadaan kekasihnya seperti ini”

Lanjutnya dan menggengam kedua tangan taeyeon, mengisyaratkan bahwa putrinya ini harus bangkit dari keterpurukan dan kembali menatap masa depannya yg sempat tertunda.

Sebulan yang lalu, adalah bulan terindah bagi yeoja bermarga kim ini sekaligus bulan terburuk dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Ditengah persiapan pernikahannya yg sudah hampir rampung 80%, ia harus menerima pahitnya ditinggalkan calon suaminya. Sebuah kecelakaan yg tidak disengaja telah merenggut nyawa orang yg dicintai taeyeon untuk selama-lamanya. Semua terjadi begitu cepat, sehingga membuat yeoja bertubuh mungil ini tidak percaya dengan kisah cinta buruk yg harus dijalaninya.

Dihari pemakaman leeteuk, ia bahkan tidak ingin pulang dan bersikeras untuk menemani kekasihnya itu apapun yg terjadi. Jika bukan karna tubuhnya yg melemah hingga harus diangkat mungkin taeyeon akan tetap bersikukuh untuk tinggal.

Dan ini adalah kali pertama kulitnya merasakan hangatnya sinar matahari setelah sebulan penuh hanya mengunci diri dikamar, menangis, dan meratapi dirinya seolah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.

***

<Taeyeon’s house>

“ahhh eonnie lihatlah rambutmu ini kusut sekali sudah berapa lama kau tidak menyisir?” ucap yeoja yang kini tengah duduk diruang makan bersama taeyeon, disisipkannya jemarinya disetiap rambut eonnienya itu dan sedikit merapikannya. Ia turut prihatin dengan keadaan taeyeon yang semakin hari semakin memprihatinkan. Menurutnya kini taeyeon Bukan lagi seorang kakak yang cerewet dan perhatian namun kini sudah menjelma menjadi pribadi yang pendiam dan sulit ditemui.

“Sooyoung besok ajak kakak mu kesalon, ne!!” teriak  eomma mereka dari arah dapur yang kini tengah sibuk menyiapkan makan malam.

“ahhhh dengan senang hati!!! Eonnie besok kit…~”

“tidak!” potong taeyeon dengan nada dinginnya. Sementara sooyoung hanya mengerutkan keningnya bingung.

“waeyo eonnie? Bukankah sudah lama kau tidak ke salon? Lihatlah wajahmu itu sudah mulai kusam, kuku-kuku mu juga terlihat seperti rumput liar yg tidak terurus, dan rambut kusut mu ini.. Aigoo pasti jenis mahluk a sampai z tengah berkembang biak didalamnya” oceh sooyoung yang dibalas dengan tawa kecil eommanya saat sedang menuangkan air putih. Namun tidak dengan taeyeon, ia hanya terdiam dan menatap kosong buah apel yang tersusun rapi dihadapannya

“Tidak!! Besok aku akan mengunjungi teuk oppa”

“eonnie, mau sampai kapan kau seperti ini? lagi pula untuk apa kau memikirkan orang yang sudah mati? Dia sudah pergi, dan kau masih hidup. Lanjutkanlah hidupmu..”

*tuk!!!

Suara pantat sendok yang dipukul taeyeon tepat di kening sooyoung, yang sukses membuat jiplakan berwarna merah disana.

“awww!!! Ya eonnie apa yang kau lakukan? Ssssh” ringis sooyoung seraya mengelus jidat mulusnya

“jahat!! Tutup mulut jahatmu itu” jawab taeyeon lagi dengan nada dingin dan tatapan kosongnya

“memangnya apa yang salah dengan ucapanku? teuk oppa sudah bahagia di surga! sedangkan kau? Kau hidup seperti orang mati bahkan orang mati pun bi…. Mmmmphhhh” ocehan sooyoung kali ini ditahan oleh telapak tangan ibunya, ia takut jika putri bungsunya itu akan mengeluarkan semua kata-kata yg seharusnya tidak dikeluarkan. Karna jika sooyoung sudah bicara itu akan berubah menjadi letupan mercon yang ntah kapan berhentinya jika tidak dihentikan.

“hentikan ucapanmu” bentak ibu mereka masih dengan membekap mulut sooyoung.  ia tidak ingin taeyeon semakin terluka dengan ucapan sooyoung. Putri bungsunya itu memang suka berbicara tajam, walau maksud dibalik ucapannya adalah baik.

Namun terlambat taeyeon keburu bangkit dari kursinya dan beranjak meninggalkan dua orang itu dimeja makan dan melangkah kearah kamarnya.

“taeyeon-ah kau mau kemana? Kita bahkan belum makan malam nak” lirih wanita paruh baya itu, ia hanya bisa menatap nanar punggung taeyeon yang kini tengah berjalan dengan guntai. Dan tidak lama setelah itu terdengar suara bantingan pintu dari arah lantai dua yang tidak lain adalah pintu kamar taeyeon. Melihat kejadian ini tanpa aba-aba wanita yang kini tengah berdiri dengan celemek merah nya mulai melayangkan tangannya keudara bersiap memukul punggung sooyoung

“dasar anak nakal!! Mengapa kau bicara seperti itu pada kakak mu? Hah? Kau tau tidak ia sedang terluka? Mengapa kau malah tambah melukainya?” berkali kali punggung sooyoung dipukul oleh telapak tangan ibunya, melampiaskan kemarahannya atas apa yg sudah sooyoung lakukan pada taeyeon

“ini hari pertama ia mau keluar kamar tapi kau malah membuatnya semakin terpuruk! Kau seharusnya memberikan semangat untuk kakak mu bukan berkata seperti tadi!! Dasar anak nakal, seharusnya aku menghukum mu sekarang!”

“eomma hentikan, Ssssh mengapa eomma memukul ditempat yang sama?! eomma pikir aku tidak sakit melihat eonnie seperti itu? Justru aku ingin menyadarkannya tapi mengapa eomma malah memukulku? Seharusnya eomma memukul taeyeon eonnie agar ia sadar bahwa didepan sana masih banyak lelaki tampan yang menunggunya. Mengapa ia terus menunggu seseorang yang sudah tiada” balas sooyoung dengan nada yang sedikit meninggi membuat ibuya terduduk lemas mendengar perkatan sooyoung barusan. Ia duduk dengan kedua tangannya memijat mijat kecil kepalanya. Berharap dengan pijatan kecil itu bisa mengeluarkan setidaknya sedikit beban masalah yang tengah dipikulnya saat ini.

***

<esok hari>

[backsound : Taeyeon – byul ]

 

TAEYEON’S POV

Kubuka mataku setelah merasakan sinar matahari menusuk tajam kornea mataku. Satu hari telah kulewati, aku berharap hari berlalu dengan cepat sehingga aku bisa cepat kembali bertemu dengannya.

Ya, dia namja yang sudah meninggalkan ku. aku harus menghukumnya karna ia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk ku.

Seperti pagi biasanya, kini aku duduk didepan meja rias dan menatap diriku sendiri. ingin rasanya aku berteriak mengeluarkan semua yang mengganjal dihatiku. Tapi bagaimana caranya? Untuk menangis saja tenaga ku sudah habis. Sampai saat ini Aku masih belum bisa menerima teuk oppa meninggalkan ku dalam waktu yang lama. Jika ia hanya pergi ke jepang ataupun amerika aku masih bisa menerima itu. tapi kali ini ia pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Aku berhasil menunggunya dua tahun saat ia harus menjalani wajib militer, tapi kali ini apakah aku akan berhasil kembali menunggunya yang ntah kapan akan kembali?

Mataku beralih kesebuah figura yang ada dimeja riasku, figura yang berisikan fotoku bersama namja yang mempunyai senyum indah itu dengan Dua buah dimple yang tidak henti-hentinya menghiasi wajah tampanya,

“bogoshiepo” lirihku dengan setengah suara. Mungkin suaraku habis karna semalam aku kembali menangis ntah berapa lama aku menangis hingga akhirnya aku terlelap tidur.

Sekarang apa yang harus aku lakukan? Saat kau wamil aku masih bisa mengirimmu surat dan mengunjungimu setiap akhir minggu. Tapi sekarang? beritau aku kemana aku harus mengirimi mu surat? Dan beritau aku bagaimana caranya melampiaskan rasa rinduku ini?

Apa kau tidak tau aku sangat merindukanmu? Suaramu yang menyebalkan, belaian tanganmu, dan bahkan aku merindukan nama ‘teuki babbo’ yang muncul dihandphoneku setiap kau menelfon. Kau tau, saat ini aku selalu mengecek handphoneku berharap ada keajaiban kau menelfon atau megirimkan sms untukku. Aku yakin mendengar suaramu saja sudah bisa membuat rasa rinduku sedikit berkurang.

“kau tersenyum? Kau bahagia? Apa kau sedang melihatku sekarang?” gumamku seraya mengelus gambar namja yang sedang aku rindukan saat ini. kemeja terakhir yang dipakainya kini tergantung di kamarku, disana masih melekat bau khas parfume nya, aku sengaja memintanya dari ibu mertuaku sehari setelah kepergian teuk oppa dan tidak memasukannya ke londrey. Karna menurutlku ketika aku merindukannya hanya itu benda satu satunya yang bisa kupeluk. Sama seperti semalam, aku tidur dengan memeluk kemejanya. Aku bahkan tidak membiarkan air mataku memebasahi kemeja itu, aku tidak ingin baunya berubah sedikit pun dan terus Berharap ada sebuah keajaiban DIA benar-benar hadir dalam pelukanku semalam.

Sebuah kalender berwarna pink yang berdiri tepat di sebelah figura foto ku sedikit mencuri perhatianku, tidak ada yang spesial dengan kalender ini namun melihat dua buah digit angka yang sudah kulingkari dengan bentuk hati berwarna pink itu seperti kembali merobek luka yang sedang aku coba untuk kusembuhkan.

Kusapukan tanganku didua digit tanggal yang sudah kulingkari bentuk hati tersebut.

Aku kembali teringat tenyata hari ini hari pernikahanku. Hari dimana aku seharusnya berdiri didepan altar dengan gaun putih panjang yang sudah aku siapkan dari 3 bulan yang lalu, bersama namja yang sangat aku cintai. Tidak pernah sebelumnya aku membayangkan kisah cintaku akan seperti ini. ntah apa yang tengah tuhan rencanakan, mengapa Ia membuat calon suamiku meninggal dengan kecelakaan tragis sebulan sebelum pernikahan kami?

Aku masih ingat seperti apa keadaan teuk oppa dihari terakhir aku melihatnya diruangan yang sangat aku benci itu. ia bersimbah darah, wajahnya pucat, tangannya dingin, dan bibirnya membeku, aku berharap pada saat itu ia bisa tersenyum lagi kearahaku dan mengatakan ‘aku tidak apa-apa’ tapi nyatanya bibir itu tetap membeku dan membiru. Membuat ku tidak kuat, dan aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu. yang aku temukan setelah itu adalah diriku terbaring ditengah-tengah alat infus dan selang oksigen mengikat hidungku.

Mata ku kembali berpindah kearah figura foto yang ada digenggaman tangan kiriku

“oppa.. mengapa kau meninggalkanku dengan cara seperti ini.. eum? Hari ini hari pernikahan kita, kau bilang kau ingin melihatku memakai gaun itu. ta- tapi kau malah meninggalkanku” air mataku kembali menetes.

***

AUTHOR POV

“sooyong suruh kakakmu sarapan bersama” suruh pria paruh baya ditengah-tengah meja makan, yang dijawab dengan anggukan cepat sooyong dan bersiap untuk bangkit dari kursinya. Namun dengan cepat tangan nya ditahan oleh wanita yang saat ini tengah menata meja makan.

“tidak perlu, biar taeyeon makan dikamarnya. eomma sudah menyiapkan sarapan special untuknya” ucap wanita itu dengan seburat senyum diwajahnya

Setelah sarapan ibunya taeyeon pun menaiki tiap anak taga rumahnya menuju lantai dua. Tempat dimana kamar taeyeon  berada. Dengan membawa sebuah nampan berisikan satu mangkuk sup, nasi dan susu coklat kesukaan putrinya itu. Ia berharap ada sebuah perubahan yang berarti  dalam tubuh taeyeon pagi hari ini.

*knock knock knock* diketuknya tangan kirinya di pintu yang bertuliskan ‘taeng zone’ tersebut dengan lembut, sementara tangan kanannya ia pergunakan untuk memegang nampan yang sudah ia siapkan untuk taeyeon.namun setelah tiga kali mengetuk tetap tidak ada jawaban dari dalam, akirnya nyonya kim pun masuk tanpa meminta izin sang empuya kamar terlebih dahulu.

“t-t-taeyeon apa yang kau lakukan nak?” ia hampir saja mejatuhkan nampannya setelah melihat pemandangan dihadapanya ini

Taeyeon berdiri didepan kaca besar dengan gaun pengantin yang seharusya dipakainya dihari pernikahannya. Rambut kusutnya digulung begitu saja dan terliat  sebuah mahkota kecil diatas kepalanya. Namun yang lebih mengejutkan batin nyonya choi adalah tangan kiri taeyeon saat ini tengah mengenggam cutter yang sudah sedikit berkarat

“hari ini hari pernikahanku dengan teuk oppa, apa aku sudah cantik?”

ibunya yang melihat pemandangan ini segera menutup pintu, nampan yang dibawanya tadi pun digeletekannya saja dimeja rias taeyeon. Ia berusaha tenang dan mendekati tubuh putrinya itu dengan sangat hati-hati.

Ia takut jika sedikit saja ia salah melangkah, taeyeon bisa melukai dirinya sendiri dengan menggoreskan cutter tersebut dipergelangan tangannya.

“berikan benda itu pada eomma, sayang” semakin ibunya mendekat semakin pula taeyeon menjauh, bahkan ia tidak bersedia membarikan cutter tersebut ke ibunya. Ia malah mengumpati benda tajam tersebut dibalik punggungnya. Hingga akhirnya ia terpojok disudut ruangannya.

“apa yang eomma lakukan? Aku harus pergi sekarang, teuk oppa pasti sudah menungguku digereja”

Deraian air mata itu semakin tidak tertahankan setelah ia mendengar ucapan taeyeon barusan. Ia pun segera memeluk tubuh putrinya itu dengan tangisan yang terisak. Ia merasa semakin hari kondisi putrinya ini semakin parah. Ia hanya bisa memeluk tubuh taeyeon dengan hangat, berharap agar putrinya yang ceria dulu bisa kembali lagi seperti semula. berharap mata yang ditatapya itu  kembali berbinar dan suara yang didengarnya itu kembali menyuarakan keceriaan.

“sayang!! sadarlah eomma mohon! Leeteuk sudah tidak ada” bentak wanita paruh baya itu dengan penekanan dinama leeteuk yang ia sebut beserta dengan tangis yang terus mengalir dipipinya

Dihempaskan taeyeon tubuh ibunya dengan kasar membuat cutter yang digenggamnya tadi ikut terhempas

“aniya! Teuk oppa tidak pergi. Ia tidak meninggalkan ku. ia masih hidup!! ini hanya mimpi iyakan?!! LEETEUK OPPA TIDAK MENINGGAL! IA MASIH HIDUUUUUUUP!!!!!” lama kelamaan ucapan taeyeon berubah menjadi teriakan histeris, dan menjauhkan dirinya dari ibu yang pernah mengandungnya itu. ia semakin meronta-ronta dengan menjambak rambutnya sendiri. mahkota yang tadi bertengger dikepalaya pun kini dilemparkanya dengan sembarang bahkan hampir mengenai wajah ibunya jika saja ibu taeyeon tidak menangkis mahkota kecil itu.

“tenanglah sayang!! Iya teuki tidak pergi, iya eomma tau itu! jangan sakiti dirimu seperti ini taeyeon-ah”

Nyonya kim berusaha keras untuk menenangkan putrinya dan tidak lama setelah itu pintu kamar pun terbuka dan terlihat sooyoung dengan ayahnya yang juga terkejut dengan pemandangan taeyeon yang berantakan saat ini. Ayah taeyeon pun segera berlari kearah putrinya yang kini tengah menyakiti dirinya itu dan berteriak histeris dipojok kamarnya bermaksud untuk membantu istrinya untuk menenangkan taeyeon. Sementara sooyoung hanya bisa berdiri dengan gemetaran menutup mulutnya seolah terkejut sekaligus sedih melihat keadaan taeyeon sekarang ini.

Setelah kurang lebih setengah jam taeyeon menangis dengan histeris, akhirnya tubuhnya melemah dan ayahnya berhasil mengangkat tubuhnya agar dibaringkan dikasur.

“yeobo, apa yang harus kita lakukan?” tanya nyonya kim yang saat ini tengah duduk dipinggir ranjang taeyeon, terlihat sebuah tangan besar memegang erat pundak nyonya kim. Lelaki bertubuh besar itu berusah terlihat tegar saat ini, namun jauh dilubuk hatinya ia merasakan sakit yang amat dalam melihat keadaan taeyeon yang tidak memperlihatkan  tanda-tanda semakin membaik semenjak sebulan lalu

“apa kita harus membawanya ke psikiater?” jawabnya pelan, berharap ia tidak salah bicara. Namun benar saja. Ternyata ia salah bicara dan mendapatkan tatapan tajam dari istri yang sudah menemani hidupnya selama 36 tahun tersebut.

“mwo? kau pikir taeyeon kita gila? Dia tidak gila yeobo! Taeyeon ku tidak gila!!! Mengapa kau tega membawa putrimu sendiri ke psikiater, eoh???” ibu taeyeon pun kini berdiri dan mulai beradu argument dengan suaminya, sementara sooyoung yang juga ada dikamar taeyeon hanya berpura-pura tidak mendengar percakapan orang tuannya. Ia malah sedikit mengajak eonninya itu mengobrol. Berharap orang yang diajaknya mengobrol itu tidak mendengar perdebatan orang tuanya.

“aku tidak mengatakann taeyeon kita gila, aku hanya memberi solusi untuk membawanya ke psikiater.psikiater bukanlah tempat yang seperti kau pikirkan… Heeeeey kau mau kemana? Ibunya taeyeon, kita belum selesai bicara” teriak pria paruh baya itu seraya mengejar istrinya yang keluar tanpa aba-aba ketika suaminya itu tengah mengoceh.

Sementara sooyoung mulai mencoba menghapus sisa-sisa make up yang berantakan di wajah taeyeon

“eonnie, kau lemas? Pasti kau lapar! Sehabis aku mengelap wajahmu, aku akan menyuapimu.. hmm ibu kita sudah menyiapkan sarapan special untukmu eonnie” disentuh sooyoung dengan lembut kapas pembersih diwajah taeyeon

“eonnie, kau jangan sedih mendengar perdebatan eomma dan appa.. mereka hanya bingung dan tidak mengerti dengan apa yang kau rasakan saat ini”  lanjut sooyoung

Setelah selesai membersihkan wajah kakanya, ia pun mengambil nampan berisikan nasi dan sup beserta susu coklat yang sudah mulai dingin diatas meja rias taeyeon

“eonnie ayo kita makan” ajak sooyoung seraya mengancungkan seseondok nasi kearah mulut taeyeon

***

<sehari setelahnya, Taeyeon’s house>

Setelah kejadian kemarin taeyeon tidak terlalu banyak bicara, namun ia sudah mau turun dari kamarnya dan ikut sarapan bersama keluarga besarnya. Walau raut wajahnya masih terlihat pucat dan tidak bergairah, untuk mau ikut sarapan bersama saja orang tua taeyeon sudah cukup bahagia melihatnya.

Dan kali ini sooyoung berinisiatif  untuk menemain eonninya itu dikamarnya, ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.

Mengajak ngobrol dan menceritakan hal-hal indah disekelilingnya adalah cara terbaik untuk memulihkan kondisi seorang yang deperesi, seperti apa yang sudah dibaca sooyoung di buku psikologi yang sudah dibacanya.

Sambil sedikit bersenandung, dilayangkan sooyoung setiap jemari lentiknya dirambut taeyeon. Walau agak sedikit kepayahan karna rambut taeyeon yang mulai kusut, ia tetap menyisirnya dengan sabar dan perlahan tidak ingin tarikan rambutnya membuat eonni yang sangat dicintainya itu kesakitan.

“aigoo eonnie lihat lah ini rambutmu sudah mulai rontok karna kau jarang mengurusnya. Hhhh aku yakin mereka pasti sedang menangis karna pemiliknya tidak memberikan asupan gizi yang baik” oceh sooyong seraya memperlihatkan beberapa helai rambut coklat ke arah taeyeon, sementara pemilik rambut tersebut tidak peduli hanya memainkan jemarinya diatas meja rias.

“eonnie sampai kapan kau seperti ini? aku rindu dengan ocehan cerewet mu, bertengkar denganmu, belanja, clubbing, dan menghabiskan uang hingga dimarahi ibu” gumam sooyoung perlahan seraya menyisir rambut kusut taeyeon, namun ocehan sooyoung barusan mendapatkan respon oleh taeyeon. Ia menatap sooyong melalui pantulan kaca

“soo!!” gumam taeyeon, yang dengan sontak membuat sooyoung yg tengah sibuk mentaa rambut eonninya itu menatap balik kearah taeyeon

“aku ingin ke taman, kau mau menemaniku?” lanjutnya

“jinjja?? Aku mau eonnie, chankaman aku akan mengambil kunci mobil lalu kita berangkat” tak lama sooyoung pun berlari kekamarnya mengambil kunci mobil, dan setelah itu kembali kekamar taeyeon dan mendapati eonninya itu sudah rapi dengan balutan dress selutut warna merah miliknya.

Ada sedikit perasaan bahagia melihat pemandangan ini, terlebih ibu dua yeoja cantik ini. tapi ia tidak ingin berharap banyak. Karna terkadang mood taeyeon masih belum stabil. Karna bisa saja sekarang suasana hati taeyeon sedang baik , tapi tidak ada yang tau bagaimana suasana hatinya nanti malam. Itulah sebabnya mereka tidak terlalu lenyap akan kebahagian melihat sedikit perubahan positiv dalam tubuh taeyeon.

Akhirnya setelah meuyusuri jalanan kota seoul, mobil mungil berwarna pink itu sampai di taman pusat kota yang tidak begitu ramai. Tentu saja karna hari ini bukanlah hari libur, hanya sebagian penjual menjajakan jajananya seperti ice cream dan kembang gula.

“eonnie kau mau ice cream?” tawar sooyoung ketika mereka melewati sebuah stand ice cream, yang dijawab dengan anggukan manis taeyeon

“baiklah, kau duduk saja dikursi itu nanti aku akan menyusul. Oke” taeyeon pun menurut perintah sooyoung dan menghampiri kursi taman berwarna putih yang tidak jauh dari stand ice cream. Kursi yang sama saat seminggu yang lalu ia duduk termenung memperingati sebulan kepergian tunangannya itu.

Seraya menunggu sooyoung, taeyeon menatap sekelilingnya. tanpa terasa seburat senyum menghiasi wajahnya ketika teringat setahun  yang lalu ia berada ditempat yang sama namun bersama orang yang berbeda. Yapp leeteuk, namja yang dicintainya itu sudah melamarnya tepat didepan air mancur dan dihadapan orang banyak di taman ini

Bayangan itu pun pudar setelah sebuah cup ice cream coklat berada tepat didepan matanya

“ice cream mu eonnie” kejut sooyoung, yang dibalas dengan senyuman manis taeyeon.

“ahh udaranya benar-benar sejuk!! Eonnie kita sudah lama tidak pergi ketaman bersama, iyakan? Terakhir saat kita masih kecil, ketika kita sudah besar kita hanya tau mall, club dan tempat makan. Kita melupakan taman indah ini eonnie. Ahh lihatlah bahkan semprotan air mancurnya satu meter lebih tinggi dari terakhir aku kemari. Ummmmmm dan lihat itu eonnie dulu patung itu tidak ada, tapi sekarang mereka membangun sebuah patung disana, slrupt~~~” ocah sooyoung hingga tanpa ia sadari ice cream yang dipegangnya mulai mencair hingga akhirnya di julurkan lidahnya untuk menghadang ice cremanya meleleh.

“soo!!” mendengar namanya terpanggil yeoja yang tengah menikmati ice creamnya ini pun menoleh kesamping

“sepertinya aku sudah gila” lanjut taeyeon yang sukses membuat sooyoung berhenti menjilat ice creamnya

“eonnie!!  tidak ada orang gila yang menyadari dirinya gila. Kau tidak gila eonie, kau hanya sedang merasa kesepian tapi tenanglah mulai saat ini aku akan menemanimu. Arrasso”  dibelai sooyoung dengan lembut tangannya dirambut panjang taeyeon

“terkadang aku berpikir, kenapa aku tidak gila saja? Aku mungkin lebih bahagia jika aku menjadi gila. Bisa tertawa seolah tidak terjadi apa-apa, dan tidak perlu merasakan rasa sakit ini lagi… Sepertinya tuhan memang memebenciku soo! Ia membuatku menderita karna teuk oppa, kenapa tuhan tidak membuatku menjadi wanita gila”

“ya eonnie!! Apa yang kau bicarakan eoh? Jika kau punya pikiran seperti itu, kau benar-benar egois hanya memikirkan dirimu. Bagaimana dengan ibu? Ayah? Aku? kita semua pasti akan lebih menderita karnamu. seperti ini saja ibu sudah ingin bunuh diri karna tidak kuat melihat keadaanmu yang tidak ada bedanya dengan mayat hidup. Apa kau tau kemarin sesaat setelah kejadian kau bereteriak histeris, aku memergoki ibu hampir menelan semua pill obat tidurnya dikamar mandi, beruntung aku cepat. Ntah apa yang terjadi setelah itu jika aku terlambat 5 menit saja”

*tesss

Cairan bening itu pun mengalir membasahi pipi taeyeon.

“eoh? Eonnie k-k-kau menangis? m-m-maaf.. maafkan aku eonnie! Aku menyakiti perasaanmu lagi ya? Mian, jeongmal mianhae~” segera dipeluk sooyoung tubuh mungil taeyeon, memeluknya dengan erat berharap tangisan taeyeon berhenti. Namun ia malah semakin menangis dengan terisak.

Hatinya begitu perih ketika mendengar ibu yang dicintainya itu ingin bunuh diri karna dirinya. Sedetik kemudian taeyeon kehilangan kesadaran dipelukan sooyoung. Ia menangis dengan terisak dan merasakan ribuan jarum menusuk jantungnya saat ini hingga ia merasakan dunia berputar, buram dan gelap.

“eonnie!! Kau kenapa? Eonnie!!! Ya eonnie!!!!!”

***

In hospital_

“sooyoung!! Sooyoung!! Apa yang terjadi, eoh?” dua orang paruh baya kini tengah berlari disebuah lorong rumah sakit setelah melihat seorang yeoja berambut panjang yang tengah duduk tepat didepan ruangan bertuliskan ICU

“eomma appa, tenanglah dulu! Eonnie pasti baik-baik saja didalam”

“yak!! bagaimana aku bisa tenang bodoh, kau pasti mengatakan yang macam-macam lagi, iyakan? Kau pasti sudah membuat eonnie mu terluka lagi.. dasar anak nakal!! Kenapa kau tega seperti itu pada eonniemu? Hiks hiks” racau nyonya kim disertai dengan pukulan dipunggung sooyoung dan kali ini tidak ada perlawanan atau bahkan pemberotakan sedikit pun dari tubuh sooyoung.

Sementara Ayah sooyoung terlihat tidak tega, dan segera memeluk istrinya agar berhenti memukuli tubuh putri bungsunya itu

“yeobo sudahlah jangan memukuli sooyoung seperti itu. kita berdoa untuk taeyeon. Ne”

Setelah beberapa jam berlalu akhirnya pintu mencekam itu terbuka, yang langsung disambut oleh nyonya kim

“dokter bagaimana taeyeon”

“keadaannya sangat lemah, tubuhnya kekurangan banyak cairan, dan denyut jantungnya juga sangat dibawah batas normal. Kita berdoa agar taeyeon bisa melewati masa kritisnya, karna Tidak ada yang bisa menolong taeyeon saat ini kecuali semangat untuk hidup dari dalam dirinya” jawab dokter yang bertuliskan ‘Park JungSoo’ di name tag nya

“apa kami bisa mengunjunginya?” kali ini suara gemetar sooyoung mengeluarkan suaranya, ia terlihat menahan tangisnya

“ne, silahkan mengunjunginya, jika ada apa-apa segera hubungi aku” dokter  park pun membungkukan tubuhnya dan setelah itu pergi.

<4 days to go>

Saat ini taeyeon sudah dipindahkan keruangan VVIP namun belum ada yang berubah dari tubuhnya. Tubuhnya masih terlilit oleh selang-selang oksigen dan alat pendeteksi jantung disebelah tempat tidurnya masih tidak menunjukan adanya kemajuan.

“yeobo-ahh, kau istirahatlah. Kau belum tidur dari semalam” suruh namja yang kini tengah duduk dikursi berwarna merah seraya membolak balikan koran yang sedang dibacanya, sementara yeoja yang dipanggilnya yeobo tersebut terlihat sedang memijat mijat kecil kaki putri yang tengah terbaring tidak berdaya itu

“aniya, aku tidak mengantuk”

“jika kau tidak mengantuk, setidaknya berbaringlah. Istirahatkan tubuhmu” nyonya kim seolah acuh dengan ucapan suaminya barusan, ia masih saja melanjutkan aktifitasnya

“ibunya taeyeon, mau sampai kapan kau disitu? Aku bilang isitrahatlah”

“aku tidak apa-apa, yeobo”

“ya!! Bagaimana jika kau sakit. setidaknya istirahatlah walau sebentar. Apa kau tidak dengar?” bentak ayah taeyeon dengan suara yang lumayan keras. ditambah lagi pikirannya yang sedang kacau membuat emosinya susah ditahan.

Bagai anak kucing yang habis dimarahi induknya, yeoja yang sedari tadi hanya memijat kaki taeyeon itu pun kemudian membalikan tubuhnya dan berjalan ke arah kasur yang lumayan besar di sebelah tempat tidur taeyeon. Dan membaringkan tubuhnya disana. ia paham betul jika suamiya itu sedang marah apapun bisa dilakukannya. Ia tidak ingin hal itu terjadi oleh sebab itu ia segera pergi membaringkan tubuhnya walau sesunggunya ia tidak merasa lelah sama sekali.

***

<10 days to go>

SOOYOUNG POV_

Dengan langkah berat, kulangkahkan kakiku dilorong rumah sakit yang sudah selama sepuluh hari ini kulewati. Yapp tepat sepuluh hari taeyeon eonnie tidak sadarkan diri dari tidur panjangnya. Hari ini sebelum berangat kerumah sakit aku sengaja mampir di toko kecantikan. Aku membeli berbagai macam pewarna kuku. Tentu saja aku berencana untuk mengolesi kuku taeyeon eonnie, agar kukunya tidak terlihat pucat.

Namun tiba-tiba seorang dokter dan segerombolan suster terlihat berlarian dari arah belakangku bahkan hampir menabrakku jika saja aku tidak menghindar. Aku mendengar salah satu dari mereka mengucapkan angka 406. Dan benar saja gerombolan suster itu masuk kedalam kamar yang sangat amat aku kenal.

“ada apa? mengapa mereka berlarian ke kamar taeyeon eonnie?” gumamku dengan langkah cepat

“eommaaaa~” sesampai dikamar aku langsung berlari memeluk ibuku yang kini tengah menangis histeris dipelukan ayah.

‘tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit~’ seluruh persendian ku terasa lemas setelah mendengar mesin itu berbunyi dengan nada panjangnya. Dan suasana diruangan ini pun semakin mencekam. Dengan reflek kulipat tanganku berdoa agar taeyeon eonnie bisa melewati ini semua. Sementara tangisan eommaku semakin histeris ia bahkan hampir saja terjatuh jika aku dan ayah tidak segera menopang tubuhnya

“detak jantung menghilang dok!” teriak seorang suster yang saat ini juga terlihat panik

“cepat berikan aku penyetrum jantung”

“1…. 2… Ready”

‘dug!!’ aku menangis melihat tubuh taeyeon eonnie terhempas dikasur sehabis alat penyetrum jantung menyengat tubuhnya

“1….. 2…. Ready”

 

‘dug!!’ lagi-lagi tubuh mungil taeyeon eonnie terhempas. Namun bunyi datar dan panjang itu masih terdengar. Aku bisa melihat wajah pasrah dari para tim medis yang tengah menangani taeyeon eonnie

“eonnie!!! Kembalilah jangan tinggalkan aku.. jebal eonnie!!!!” teriak ku reflek

“1….. 2….. ready”

 

‘Dug!!’

 

‘Tiiiit…tiiit…tit’ aku langsung memeluk  tubuh lemas ibuku setelah mesin itu kembali bisa mendeteksi suara detak jantung taeyeon eonnie

“gomawo eonnie, jeongmal gomawo” gumamku, aku bersyukur tuhan tidak jadi mengambil taeyeon eonnie

“dokter park, anak ku sudah tidak apa-apa kan?” tanya ibu ku setelah melihat dokter park merapikan peralatannya

“umm, nyonya ku harap kalian bisa berbesar hati jika seuatu yang tidak kita harapkan terjadi. Karna melihat kejadian ini taeyeon sudah tidak ada harapan. Ia hidup berdasarkan alat dan….”

“apa maksudmu tidak ada harapan? Dia sakit bukan karna kecelakan dia hanya pingsan. Lalu kalian malah memperkeruh keadaan dengan memasang selang oksigen dan monitor jantung. aku bahkan sudah membayar mahal rumah sakit ini!!”

“maaf tuan kim, jika anda membawa putri andan kerumah sakit termahal sekalipun  kurasa mereka juga akan melakuan hal yang sama. Dan sekali lagi maaf  kami sudah melakukan semampu kami untuk nona taeyeon”

“appa sudahlah! Dokter park benar, sekarang kita hanya perlu berdoa. Ne” aku segera menarik lengan ayahku yang mulai memanas. Aku paham ia masih shock karna melihat keadaan taeyeon eonnie barusan.

~~

_AUTHOR POV_

Sekarang keadaan kembali sedikit membaik, detak jantung taeyeon yang tadi sempat meghilang juga sudah kembali normal. Ditambah lagi keluarga leeteuk juga sedang berada diruanga taeyeon. Walau pun yeoja mungil itu tidak sadarkan diri monitor jantungnya menyatakan bahwa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat

“sepertinya ia senang dengan kedatangan kalian” ucap nyonya kim yang kini tengah membasuh tubuh taeyeon dengan air hangat

“benarkah? Huh lihat anak ini sekarang begitu kurus”

“eommaaa~” lirih taeyeon diikuti dengan kedua kelopak matanya yang mulai terbuka sedikit demi sedikit.

Semua yang ada diruangan 406 itu pun langsung mengerubuni tempat tidur taeyeon, untuk memastikan apakah suara yang mereka dengar barusan, betul-betul suara taeyeon

“eomma~” lirih taeyeon lagi

“iya sayang, eomma disini! kau sudah bangun? Sooyoung cepat panggilkan dokter.. ppali.. ppali!!”

perintah yeoja yang kini tengah berada disisi kepala taeyeon, dengan reflek sooyoung langung berlari keluar ruangan

“appaaa~”  Dengan tubuh setengah sadar taeyeon mencoba menatap setiap orang yang ada disekelilingnya saat ini

“ne, appa disini.. kau jangan banyak bicara dulu sayang”

“omonim? Inyoung eonnie?” seolah tidak mendengarkan ucapan ayahnya, tangan kanan taeyeon kini menggapai-gapai dan dengan segera langsung ditangkap dan digenggam oleh orang yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya itu.

“sayang.. kau harus kuat! Ne.. kembalilah seperti dulu” ucap ibunya leeteuk, taeyeon terlihat menganggukan kecil kepalanya

“mianhae eomma~” kini pandnagan taeyeon beralih kearah yeoja yang kini tengah membelai lembut kepala taeyeon

“aniyaaa~ gwenchana sayang.. semuanya sudah lewat, eomma sangat berterimakasih sekarang kau sudah siuman. Untuk kedepannya hiduplah dengan kuat,ne!! umur eomma terasa bertambah panjang jika melihatmu bisa kembali tertawa lepas seperti dulu taeyeon” taeyeon hanya mengaguk lemah ucapan ibunya barusan, jauh dilubuk hatinya ia ingin sekali bisa hidup seperti tidak terjadi apa-apa, dan melupakan semua kejadian cinta  yang mengenaskan baginya. Tapi semakin ia mencoba melupakan semakin pula bayangan masa lalu itu menghantui pikirannya.

“eomma! Dokter park sudah datang”

Tidak lama ditengah perbincangan mengharukan itu, pintu ruangan taeyeon pun terbuka dan memperlihatkan sooyoung yang masuk diikuti dengan pria lengkap memakai seragam dokter dan seteteskop yang dikalungkannya dileher.

“k-k-k-kau??” kejut taeyeon melihat pria yang ikut masuk dengan sooyong barusan, sementara namja yang ditunjuk taeyeon itu hanya tersenyum memperlihat dua buah dimple manis dipipinya. Menginngatkanya pada seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya itu.

“kau sudah siuman taeyeon-ssi? Mulai sekarang aku dokter mu, Park Jung Soo imnida. Anda bisa memanggil saya dokter park” jawab namja yang memperkenalkan dirinya ini sebagai dokter park, seraya mengarahkan senter miliknya di mata kiri dan kanan taeyeon.

THE END~~~~~~

 

***

back sound Taeyeon – missing you like crazy

(Flashback saat dimana Taeyeon koma)

 

Taeyeon’s POV

Aku melangkah di rerumputan hijau dengan banyak macam bunga diseklilingku, mata ku menata luas kedepan. Betapa indahnya temppat ini, aku berjalan dengan langkah enteng, merasa semua beban pikiran yang aku pikul selama aku hidup sudah lenyap. Yang ada saat ini hanyalah sebuah kebahagian menatap kedepan dengan indah. Sungguh aku ingin tinggal ditempat ini lebihlama bersama dengan ribuan kupu-kupu cantik dan bnga-bunga yang terus tersenyum ke arahku.

 

Langkahku terhenti ketika sebuah tangan hangat yang amat aku rindukan mendekap tubuhku dari belakang. Bibirku pun relfek mengguratkan sebuah senyuman akan dekapan hanga itu. sudah lama sekali aku tidak mersakan pelukan ini, merasakan deruan nafasnya di tengkuk leherku, dan genggangan hangat namja yang aku rindukan ini.

“bogoshippo~” bisiknya yang lumayan teredengar oleh kedua daun telingaku.

 

Segera ku balikan tubuhku menatap wajah yang aku rindukan itu, wajahnya terlihat bercahaya, dan bahkan ia terlihat lebih tampan dari biasanya, sambil tersenyum ku sentuh kulit wajahnya dengan telunjuk ku. seolah tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini

“Nado bogoshippo oppa! kau kemana saja, eum?”

 

“mau berkeliling?” ajaknya, tanpa menjawab pertanyaanku barusan. diulurkannya tangan kiri miliknya. Tanpa berpikir panjang lagi segera kutangkap tangan itu. aku tetap tidak percaya aku bisa menggengam tangannya lagi.

 

Sepanjang jalan au terus menggengam tangannya dengan erat, tidak ingin kehilangannya lagi. mengkitu setiap lankahnya kemanapun ia mengajaku. Senyumku pun tidak henti-hentinya terlontar embawa langkah kami yang tak berujung.

 

Sejauh ini diantara kami belum ada yang membuka percakapan. Kami masih sibuk dengan perasaan rindu kami yang kami lampiaskan dengan berpegangan tangan, berlari menangkap kupu-kupu, tertawa, dan tak jarang kami menatap satu sma lain dan setelah itu berpelukan. Apa dia benar-beanr merindukanku?

 

“jangan pergi lagi” ucapku membuka percakapan, ia hanya menjawabku dengan mengeluarkan dua buah dimplenya. Dan kamipun melanjutkan lankah kami tanpa sedetik pun melepaskan genggaman tangan kami.

 

Akhirnya kami menghentikan langkah kami di sebuah ladang rumput yang begitu luas, ia menyuruhku untuk duduk disebelahnya. Dengan senang hati segera kulakukan.

Ditepuknya kedua tangannya di kedua sisi pahanya, aku megerti apa maksudnya ini. aku pun menidurkan kepalaku dipangkuannya. Tanpa terasa mataku terpejam merasalan setiap belaian hangat yang ia salurkan melalu setiap helai rambutku.

 

“apa kau mencintaiku?” tanya nya tiba-tiba yang aku jawab dengan anggukan kepalaku. Walau mataku terpejam tapi aku tidak tertidur

 

“kalau begitu, setelah ini hiduplah dengan baik” lanjutnya, mataku pun langsung terbelalak menatapnya

 

“waeyo? bukankah kau datang ingin menjeputku oppa?”  lagi-lagi ia hanya tersenyum menjawab pertanyaanku ini

 

“aku akan terus disamping mu! Walau kau tidak melihatku, cobalah merasakan kehadiranku disetiap hembusan nafasmu. Jadi kumohon jangan pernah merasa bahwa aku meninggalkanmu” sebuah bulir air mata tengah menggenang dipelupuk ku saat ini

 

“apa kau tau? Aku merasakan jutaan kali lipat rasa sakit yang kau rasakan ketika melihatmu menangis dan berteriak memanggil namaku! Apa kau tau aku juga menangis ketika kau pernah berpikiran untuk bunuh diri! Mengapa taeyeon ku menjadi seperti ini? eum…?” segera kuseka air mataku yang hampir terjatuh membasahi pangkuan teuk oppa, aku tidak boleh menangis dihadapanya

 

“mian…~”  lirihku singkat,

 

“hiduplah bahagia untukku taeyeon! Jangan bertindak atau bahkan berpikiran bodoh untuk mengakhiri hidupmu. Dan maafkan aku, tidak bisa menepati janjiku untuk membahagiakanmu hingga akhir. Carilah pria yang lebih baik dariku, yang bisa menenpati janjinya. Lalu kembali menjadi taeyeon ku yang dulu selalu memberiku semangat dengan aegyeonya” air mataku kembali mengalir dengan deras, aku bahkan susah mengendalikan deraian air mataku hingga sebuah titik air mata membasahi pangkuan tempat aku berbaring saat ini.

 

“kau menangis lagi?” di tangkapnya wajahku yang tengah berbaring miring dipangkuannya. Aku tidak bisa menjawab apa-apa, mugkin wajahku yang basah saat ini sudah cukup untuk menjawab pertanyaan nya barusan. Aku pun segera bangkit dari tidurku dan segera mengelap wajahku yang basah dengan kedua telapak tanganku

 

“aniya oppa, mataku hanya kemasukan binatang. Aku tidak menangis, lihatlah aku bahkan bisa tersenyum” jawabku seraya mengeluarkan sebuah senyuman yang sedikit kupaksakan. namun memang dasar bodoh, tanpa perintah Sebuah cairan bening kembali mengalir ketika aku merasakan kedua tangannya menangkup pipiku

 

“berjanjilah untuk selalu tersenyum untuk ku, berjanjilah untuk tidak mengeluarkan setitik air mata pun karna ku,  berjanjilah untuk tidak membuatku khawatir lagi, dan berjanjilah untuk hidup lebih baik setelah ini” ditatapnya kedua mata ku dalam, membuatku susah bernapas karna berusaha keras untuk tidak menenteskan air mata lebih banyak lagi.

 

“ne!”  jawabku singkat, dan tak lama ditariknya aku kedalam pelukannya.

 

“Gomawo Taeyeon!! Na jeongmal saranghanda” 

 

“Nado jeongmal saranghanda oppa”

END~

need yr commen

7 comments on “STAIRWAY TO HEAVEN FF oneshoot

  • Ff ny daebak banget
    ak kyk ngrsa klo ak jd taeyeon
    hiks hiks
    eh ngmng” park jung soo yang jd doktek tae it sp ?
    Ap kah dy mrp bngt sm teuk
    sequel please

  • Ff ny daebak banget
    ak kyk ngrsa klo ak jd taeyeon
    hiks hiks
    eh ngmng” park jung soo yang jd doktek tae it sp ?
    Ap kah dy mrp bngt sm teuk
    sequel please🙂

  • Ff ny daebak banget
    ak kyk ngrsa klo ak jd taeyeon
    hiks hiks
    eh ngmng” park jung soo yang jd doktek tae it sp ?
    Ap kah dy mrp bngt sm teuk
    sequel please ya

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: